Kerlip bintang
Redup bulan
Menemaniku dalam kebimbangan
Memandangiku ditengah keraguan
Terombang ambing dimata sang malam
Sejenak ku terdiam
Mencari jawaban dari keraguan hati
Tak kutinggalkan doaku
Kupandangi angin yang terdiam
Ku katakana pada embun malam
Ku ungkapkan pada bayang awan
Namun…..
Aku masih tetap ragu
Setengah jiwaku mencari jawaban
Setengah nafasku menanti jawaban
Akan hati yang masih bimbang
Atas segala yang engkau perbuat
Atas segala yang engkau ucap
Aku masih disini
Menanti jawaban
Atas kebimbangan
Menanti Jawaban
Hancur Dalam Diam
Pijak langkah tanpa bayang
Terdiam dalam kebisuan malam
Diam dalam kesunyian kata
Tak sanggup berucap
Masih dalam kesunyian malam
Ditemani kesendirian
Dihiasi kegelapan
Dilindungi kedamaian hati
Ingin kuhapus bayangmu
Yang telah matikan rasaku
Namun bayangmu tlah tetata
Rapi……dalam benakku
Mengambil seluruh nafasku
Sekarang pun kuharus berpijak
Tanpa nafas ku
Yang tlah larut dalam nafasmu
Bayang dirimu
Kini bejajar dinadiku
Mengalir dalam darahku
Terhembus ditiap nafasku
Hanya engkau
Engkau yang dihatiku
Engkau yang dibenakku
Engkau yang hancurkan rasaku
Rasaku
Aku terbuai dalam pujian hati
Menjanjikan sejuta keindahan
Namunku terperangkap dalam rasa
Kuterjatuh dalam jurang hati
Kuterbelenggu dalam ruang jiwa
Dalam sepiku rasakan malam
Angin menggoda semakin resah
Setitik awan pun tak berani menjamah malam
Aku hanya sendiri ……..dalam kehampaan
Tapi perbuatanmu memang slalu uji kesabaranku
Sakitnya bahkan masih tersisa
Namun, engkau ada dalam bayangku
Terpatri jelas dlam anganku
Ingin ku enyahkan
Namun hatiku makin menahan
Slahkah aku?
Jika ku tak henti berharap
Kurela untukmu
Korbankan seluruh nafasku
Tuk seulas senyumu
Kujanjikan seluruh hidupku
Untuk bahagiamu
Akankah ini nyata?
Mentari mulai menyendiri
Enau pun diam tak bergeming
Gundah gelapkan senja
Aku mulai terdiam dalam resah
Saat angin pun menyepi
Ombak berlantun tenang
Nafasku mulai tercekat
Impikan engkau bersamaku
Aku masih terdiam dalam gelisah
Puja aku dengan ragamu
Utus cintamu tuk menjemputku
Tatkala rangkai mimpi dalam bingkai hati
Rangakai keindahan dalam hayal, bersama
Inginkan semua ini tak hanya mimpi
Tentang Mimpi
Mata indahmu memandang jenuh
Entah apa yang kau fikir
Gema adzan terkikis hujan
Akankah esok hari kan cerah?
Senja mulai terganti
Oleh malam yang kian hening
Nyanyian sang bulan menatap gerimis
Impian hati kini mulai menangis
Akankah hayalnya menjadi nyata?
Pagi mulai mengusik
Untaian tasbihmu tak henti mengalir
Tertata mimpinya dalam doa
Rangkai hayalnya dalam subuh
Inginkan semua menjadi nyata
Perih
Kini aku sendiri dimalam sunyi
Ditelan kegelapan, diterjang kehampaan
Batinku terkoyak
Hatiku teriris…perih
Bimbang tanpa arti
Kini hatiku terbagi
Memang aku yang membagi
Namun ketika semua pergi
Akhirnya ku harus mati
Karna luka yang kubuat sendiri
Perihku, tak ka ada arti
Tanpa cinta yang sejati
Memang hatiku terbagi
Tapi mengapa semua harus menyakiti
Aku diterkam ketakutan
Akan kesendirian
Tiada lagi harapan
Aku tlah terbuang
Oleh kesunyian
Oleh kehampaan
Berteman perih
Dan kesendirian
Semua tlah terbuang
Kau!
Aku memang tahu engkau
Aku memang mengetahui sikapmu
Namun aku tak sempurna
Kau tahu, itu!
Aku tak bisa mengerti atas semua sikapmu
Lelah ku menahan amarah
Resah ku menahan gelisah
Tak kah kau tahu
Betapa aku menahan tangis
Ketika ku mencari semua tentangmu
Dan ku memahami yang ada dalam dirimu
Ku tahu kau tak mengerti
Namun, cobalah tuk menghargai dirimu
Sebelum kau coba tuk hargai aku
Sebelum kau coba tuk pahami dirimu
Sebelum kau sakiti aku
Dusta jika kau berkata tak tahu
Munafik jika kau tak merasakan
Atau,
Karena kau memang tak ingin tahu
Atau memang hatimu tak bisa merasakan?
Kau….
Tak ada yang bisa kupahami dari dirimu
Tujuan Hidup
Entah apa yang kuingin
Ditengah hujan gerimis
Dalam pencarian jati diri
Menemani kesepianku
Entah apa yang kurasa
Ditengah kehilanganku
Dalam kehampaanku
Melepas cintaku
Entah apa yang kufikir
Ditengah keegoisanku
Dalam kemunafikkanku
Mencari arti hidupku
Entah apa yang kumiliki
Ditengah kesendirianku
Dalam kesepianku
Mencari engkau kawanku
Entah apa yang ku mau
Ditengah ribuan pilihan
Dalam jutaan keputusan
Miliki bahagia ibu ayahku
Bahagian kan mereka
Banggakan mereka
Bersama mereka
Kini itulah yang kutahu
Tentang, Tujuan hidupku
Diam Malam
Kian lelah memandang
Kian letih berjalan
Dalam hati bersemayam
Dalam jiwa yang temaram
Mengusik asa yang tak tenang
Hati berbincang dengan awan
Mata memanggil lindap bintang
Buaian angin menyapa wajah
Ditemani helai daun yang berguguran
Dan sang mentari beranjak ke peraduan
Usaikan pertarungan
Lenyapkan kebisingan
Patahkan usikan senja
Datangkan keheningan
Membawa kedamaian
Dalam lelap sang mentari
Dengan senandung sayang sang bulan
Dilindungi hening doa
Memanggil kesunyian malam
Lelapkan penghuni hati
Tenangkan resah jiwa
Kian temaram
Diam malam
Bersama nada indah kunang – kunang
Hati
Aku terbuai dalam pujian hati
Menyanyikan sejuta keindahan
Namunku terperangkap dalam rasa
Kutersandung dalam jurang hati
Kuterbelenggu dalam ruang jiwa
Dalam sepiku rasakan malam
Angin menggoda semakin resah
Setitik awan pun tak berani menjamah
Aku hanya sendiri…dalam kehampaan
Tapi…kau memang selalu lukai hati
Sakitnya bahkan masih terasa
Dijiwa yang tersayat luka
Namun ia didalam bayangku
Terpatri jelas dianganku
Inginku enyahkan…..
Namun hatiku makin menahan
Kini…salahkah aku?
Jika aku masih, dan terus berharap
Kan kuberikan separuh nyawaku
Bahkan kukorbankan seluruh nafasku
Untuk bahagiamu
ini puisi bikinanku waktu masih culun.
hihihi
wait...emang sekarang udah nggak culun???





